Halaman

Kamis, 23 Desember 2010

Memaksa Hak Peserta Didik


Suatu ketika seorang peserta didik sekolah menengah pertama (SMP) di sebuah kota besar tertangkap oleh polisi karena ketahuan suka menjual sabu-sabu, dan pil leksotan (narkoba) kepada teman-temannya. Kemudian peserta didik tersebut ditanya oleh polisi, "kenapa sampai berbisnis barang haram?" Dengan seenaknya id menjawab bahwa "berbisnis barang haram untuk memenuhi kepentingan sekolah, membeli buku dan alat-alat pelajaran yang seringkali dipaksakan oleh guru, dengan jumlah yang cukup besar." Anehnya ketika diperiksa air seninya ternyata
negatif, artinya peserta didik tersebut tidak termasuk pemakai barang haram yang dijualnya. Polisipun penasaran dan kemudian bertanya lagi: "mengapa tidak berbisnis barang lain?" Dengan seenaknya pula peserta didik menjawab, bahwa barang lain kan sudah banyak yang menjualbelikannya, ibu saya jualan ember, bapak saya jualan barang elektronik, tetangga saya jualan beras, guru saya di sekolah jualan buku, bagian saya tinggal barang ini Pak, katanya.

Ceritera ini berlanjut ketika ia telah berada di dalam tahanan, ditanya oleh teman satu sel yang intinya, "kenapa anak sekolah harus terjerumus berjualan narkoba." Dengan tenang pula peserta didik tersebut menjawab, "saya sedang praktek mata pelajaran kewirausahaan". Kata guru: "Belajar itu akan lebih bermakna dan tersimpan lama dalam ingatan, kalau apa-apa yang dipelajari segera dipraktekkan”.

Konon oknum peserta didik tersebut terbiasa ke luar masuk penjara, karena prustrasi dikeluarkan dari sekolah, menjadi pengangguran, dan dicemoohkan oleh masyarakat, akhirnya ia masuk ke dunia hitam dengan seluruh kehidupannya.

Akhir ceritera, ia harus menja-lani hukuman mati, dan ketika ditanya oleh hakim: "apa permintaan terakhirmu sebelum menjalani ekskusi?" Dengan tenang peserta didik tersebut menjawab: Saya rela menjalani semua ini, tetapi tolong guru saya diberi tahu agar jangan memaksa peserta didik untuk membeli buku, terutama bagi yang tidak mampu seperti saya, "saya begini awalnya karena guru yang mengajarinya, dan saya meniru serta mempraktekkan apa yang dia lakukan di sekolah."


Ceritera di atas menunjukkan betapa bahayanya seorang guru yang suka berbisnis, dengan memaksa peserta didik untuk membeli buku dan alat-alat pelajaran. Tidak ada salahnya guru mengambil keuntungan dari penjualan buku dan alat-alat pelajaran kepada peserta didik, tetapi hendaknya memahami situasi dan kondisi sosial ekonomi peserta didik, agar tidak terjadi akibat fatal bagi tumbuhkembangnya pribadi mereka. Biarkan mereka ceria dan berkembang sesuai dengan potensinya. Jangan ganggu, dan jangan paksa mereka untuk mengikuti irama tertentu. Bimbinglah mereka menjadi mereka sendiri. Lihatlah petani bunga, yang dengan sabar menyirami dan memberikan pupuk agar bunganya tumbuh dan berkembang secara optimal, mereka tidak pernah memaksa menarik-narik daun atau batangnya agar cepat besar.

Kesalahan Guru...(6)

Tidak Adil (Diskriminatif)

Pernahkan Anda mendengar syair ini :

Ketika aku masih sekolah
Ku punya guru sangatlah muda
Orangnya baik selalu padaku
Apa sebabnya aku tak tahu
     Kawan-kawanku tahu semua
     Aku bukanlah anak yang pandai
     Tapi mereka heran padaku
     Nilai raportku baik selalu
Akhirnya kawan-kawanku tahu
Pak guru itu cinta padaku

Pembelajaran yang baik dan efektif adalah yang mampu memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran merupakan kewajiban guru dalam pembelajaran, dan hak peserta didik untuk memperolehnya. Dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil, sehingga merugikan perkembangan peserta didik, dan ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, terutama dalam penilaian. Penilaian merupakan upaya untuk memberikan penghargaan kepada peserta didik sesuai dengan usaha yang dilakukannya selama proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam memberikan penilaian harus dilakukan secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari perilaku peserta didik. Namun demikian, dalam pelaksanaannya tidak sedikit guru yang menyalahgunakan penilaian, misalnya sebagai ajang untuk balas dendam, atau bahkan sebagai ajang untuk menyalurkan kasih sayang di luar tanggungjawabnya sebagai guru.

Jika diamati dengan teliti, syair-syair dalam lagu tersebut menunjukkan ketidakadilan guru dalam memberikan penilaian, betapa seorang guru telah menyalahgunakan penilaian, hanya karena perasaan "cinta"-nya kepada peserta didik tertentu. Hal ini dari dulu sampai sekarang masih sering dilakukan oleh guru, terutama guru muda. Sadar atau tidak tindakan tersebut telah merugikan perkembangan peserta didik, apalagi jika hal tersebut diketahuiu oleh peserta didik, maka akan menurunkan wibawa guru, sehingga mereka tidak mau lagi menghargai gurunya, atau bahkan menyepelekannya.
Sebagai guru, tentu saja harus mampu menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan perkembangan peserta didik. Tidak ada yang melarang seorang guru "mencintai" peserta didiknya, tetapi bagaimana menempatkan cintanya secara proporsional, dan jangan mencampuradukkan antara urusan pribadi dengan urusan profesional. Usaha yang dapat dilakukan untuk menghindarinya antara lain dengan cara menyimpan "perasaan" sampai peserta didik yang dicintai menyelesaikan program pendidikannya, tentu saja harus ikhlas dan jangan takut di ambil orang.

Selasa, 14 Desember 2010

Kesalahan Guru...(5)

Merasa Paling Pandai

Kesalahan lain yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah rnerasa paling pandai di kelasnya. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para peserta didik di sekolah usianya relatif lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh dibandang dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang perlu diisi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat menyesatkan, karena dalam kondisi seperti sekarang ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan berbagai media massa, yang mungkin guru belum menikmatinya. Hal ini terjadi terutama di kota-kota, ketika peserta didik datang dari keluarga kaya yang dirumahnya memiliki berbagai sarana, dan prasarana belajar yang lengkap, serta berlangganan koran dan majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sementara guru belum memilikinya. Dengan demikian, dalam hal tertentu mungkin saja peserta didik yang belajar lebih pandai dari pada guru. Jika ini benar terjadi, maka guru harus demokratis untuk bersedia belajar kembali, bahkan belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan. Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan akan disebut guru ortodok.

Kesalahan Guru...(4)

Megabaikan Perbedaan Peserta Didik

Kesalahan berikutnya yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah mengabaikan perbedaan individu peserta didik. Kita tahu bahwa setiap peserta didik memiliki perbedaan individual sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran. Peserta didik memiliki emosi yang sangat bervariasi, dan sering memperlihatkan sejumlah perilaku yang tampak aneh. Pada umumnya perilaku-perilaku tersebut relatif normal, dan cukup bisa ditangani dengan menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi, karena guru di sekolah dihadapkan pada sejumlah peserta didik, guru seringkali kesulitan untuk mengetahui mana perilaku yang normal dan wajar, serta mana perilaku yang indisiplin dan perlu mendapat penanganan khusus. Setiap peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang sosial ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda dalam aktivitas, kreatifitas, intelegensi, dan kompetensinya.

Guru seharusnya dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik, dan menetap¬kan karakteristik umum yang menjadi ciri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam hal ini, guru juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan yang harus diarahkan kembali.Seorang peserta didik yang aktif secara fisik mungkin bisa didorong untuk mengeksplorasikan dirinya melalui kegiatan olah raga. Jika seorang peserta didik memperlihatkan minatnya terhadap musik, maka carilah berbagai cara untuk mendorongnya agar minatnya bisa berkembang secara optimal, demikian halnya anak-anak yang memiliki kecerdasan di atas normal perlu diberi perhatian secara khusus (untuk hal ini dibahas dalam bab tersendiri, dalam buku ini).

Sehubungan dengan uraian di atas, aspek-aspek peserta didik yang perlu dipahami guru antara lain: kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, basil belajar, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya di sekolah. Aspek-aspek tersebut dapat dipelajari dari laporan dan catatan sekolah, informasi dari peserta didik lain (teman dekatnya), observasi langsung dalam situasi kelas, dan dalam berbagai kegiatan lain di luar kelas, serta informasi dari peserta didik itu sendiri, berdasar¬kan wawancara, percakapan dan autobiograpi.

Kesalahan Guru...(3)

Menggunakan Destructive Discipline

Akhir-akhir ini banyak perilaku negatif yang dilakukan oleh para peserta didik, bahkan melampaui batas kewajaran karena telah menjurus pada tindak melawan hokum, melanggar tata tertib, melanggar moral agama, kriminal, dan telah membawa akibat yang sangat merugikan masyarakat. Demikian halnya dalam pembelajaran, guru akan menghadapi situasi-situasi yang menuntut mereka harus melakukan tindakan disiplin. Seperti alat pendidikan lain, jika guru tidak memiliki rencana tindakan yang benar, maka dapat melakukan kesalahan yang tidak perlu. Seringkali guru memberikan hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang dilakukannya, tidak jarang guru yang memberikan hukuman melampaui batas kewajaran pendidikan (malleducatif, dan banyak guru yang memberikan hukuman kepada peserta didik tidak sesuai dengan jenis kesalahan. Dalam pada itu, seringkali guru memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta didik di luar kelas (pekerjaan rumah), namun jarang sekali guru yang mengoreksi pekerjaan peserta didik dan mengembalikannya dengan berbagai komentar, kritik dan saran untuk kemajuan peserta didik.

Yang sering dialami peserta didik adalah bahwa guru sering memberikan tugas, tetapi tidak pernah memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang dikerjakan. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan penegakan disiplin yang destruktif (destructive discipline), yang sangat merugikan perkembangan peserta didik. Bahkan tidak jarang tindakan destructive discipline yang dilakukan oleh guru menimbul¬kan masalah yang sangat fatal, yang tidak saja mengancam perkem¬bangan peserta didik, tetapi juga mengancam keselamatan guru. Di Jawa Timur, pernah ada kasus seorang peserta didik mau membunuh gurunya dengan seutas tali rapia, hanya gara-gara gurunya memberikan coretan-coretan dengan tinta merah pada hasil ulangan.

Kesalahan-kesalahan seperti diuraikan di atas dapat meng¬akibatkan upaya penegakkan disiplin menjadi kurang efektif, dan merusak kepribadian serta harga diri peserta didik. Agar anda tidak melakukan kesalahan-kesalahan dalam melakukan disiplin, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Disiplinkan peserta didik ketika anda dalam keadaan tenang.
2. Gunakan disiplin secara tepat waktu dan tepat sasaran.
3. Hindari menghina dan mengejek peserta didik.
4. Pilihlah hukuman yang bisa dilaksanakan secara tepat.
5. Gunakan disiplin sebagai alat pembelajaran.

Untuk kepentingan tersebut, guru harus mengarahkan apa yang baik, serta menjadi contoh, sabar dan penuh pengertian.

Kesalahan Guru...(2)

Memuiggu Peserta Didik Berperilaku Negatif

Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru yang positif, sebaliknya perhatian yang negatif akan menghambat perkembangan peserta didik. Mereka senang jika mendapat pujian dari guru, dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan atau diabaikan. Namun sayang, kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang mengajar, mereka menganggap mengajar adalah menyampaikan materi kepada peserta didik, mereka juga menganggap mengajar adalah memberikan sejumlah pengetahuan kepada peserta didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah.
Biasanya guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika ribut, tidak memperhatikan, atau mengantuk di kelas, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk.

Kondisi tersebut seringkali mendapat tanggapan yang salah dari peserta didik, mereka beranggapan bahwa jika ingin mendapat perhatian atau diperhatikan guru, maka harus berbuat salah, berbuat gaduh, mengganggu, dan melakukan tindakan indisiplin lainnya. Sering kali terjadi perkelahian pelajar, hanya karena mereka kurang mendapat perhatian, dan meluapkannya melalui perkelahian. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kebanyakan peserta didik tidak tahu bagaimana cara yang tepat mendapat perhatian dari guru, orang tua, dan masyarakat di sekitarnya, tetapi mereka tahu cara mengganggu teman dan cara membuat keributan serta perkelahian, dan ini kemudian yang mereka gunakan untuk mendapatkan perhatian.

Guru perlu belajar untuk menangkap perilaku positif yang ditunjukkan oleh para peserta didik, lalu segera memberi hadiah atas perilaku tersebut dengan perhatian dan pujian. Kedengarannya seperti hal yang sederhana, tetapi memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan memberi hadiah atas perilaku perilaku positif peserta didik, baik secara kelompok maupun secara individual.

Dalam hal ini, dianjurkan agar para guru senantiasa memberi perhatian dan penghargaan yang pantas kepada peserta didik yang berperilaku baik, dengan cara menyediakan waktu yang sama dengan waktu yang mereka luangkan untuk peserta didik yang bermasalah. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, banyak peserta didik bermasalah menjadi baik, dan mereka sudah tidak berkunjung lagi ke ruang BK. Banyak peserta didik yang rajin mengerjakan pekerjaan rumah, yang sebelumnya tidak pernah mengerjakannya karena tidak mendapat perhatian. Tanpa disadari perubahan telah terjadi, dan telah terjadi pergeseran dalam fokus, dari fokus terhadap perilaku peserta didik yang negatif menjadi fokus terhadap perilaku positif.

Menghargai perilaku peserta didik yang positif sungguh memberi basil nyata. Sangat efektif jika pujian guru langsung diarahkan pada perilaku khusus daripada hanya diekspresikan dengan pernyataan positif yang sifatnya sangat umum. Sangat efektif guru berkata: "terima kasih kalian telah mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh", daripada "kalian sangat baik hari ini".

Di sisi lain, guru harus memperhatikan perilaku-perilaku peserta didik yang negatif, dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut agar tidak terulang kembali. Guru bisa mencontohkan berbagai perilaku peserta didik yang negatif, misalnya melalui ceritera atau ilustrasi, dan memberikan pujian kepada mereka karena tidak melakukan perilaku negatif tersebut. Sekali lagi,

“jangan menunggu peserta didik berperilaku negatif”

Kesalahan Guru...(1)

Mengambil Jalan Pintas dalam Pembelajaran

Tugas guru yang paling utama adalah mengajar, dalam pengertian menata lingkungan agar terjadi kegiatan belajar pada peserta didik. Berbagai kasus menunjukkan bahwa di antara para guru banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik, meskipun tidak dapat menunjukkan alasan yang mendasari asumsi itu. Asumsi keliru tersebut seringkali menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehingga banyak guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

Tugas guru dalam pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian informasi kepada peserta didik. Sesuai kemajuan dan tuntutan zaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami peserta didik dengan berbagai keunikannya agar mampu membantu mereka dalam menghadapi kesulitan belajar. Dalam pada itu, guru dituntut memahami berbagai model pembelajaran yang efektif agar dapat membimbing peserta didik secara optimal.

Dalam kaitannya dengan perencanaan, guru dituntut untuk membuat persiapan mengajar yang efektif dan efisien. Namun dalam kenyataannya, dengan berbagai alasan, banyak guru yang mengambil jalan pintas dengan tidak membuat persiapan ketika mau melakukan pembelajaran, sehingga guru mengajar tanpa persiapan. Mengajar tanpa persiapan, di samping merugikan guru sebagai tenaga profesional juga akan sangat mengganggu perkembangan peserta didik. Banyak perilaku guru yang negatif dan menghambat perkembangan peserta didik yang diakibatkan oleh perilaku guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran.

Sebenarnya para guru menyadari bahwa persiapan memiliki peran penting dalam pembelajaran, namun masih banyak guru sering tidak membuat persiapan mengajar, khususnya persiapan tertulis. Ada kalanya guru membuat persiapan mengajar tertulis hanya untuk memenuhi tuntutan administratif, atau di suruh oleh kepala sekolah karena mau ada pengawasan ke sekolahnya. Mungkin anda pernah mendengar ucapan kepala sekolah yang menyerukan agar guru-guru membuat persiapan mengajar karena mau ada pengawas, atau ada penilaian di sekolahnya. Sungguh suatu kekeliruan besar, karena persiapan mengajar adalah suatu persiapan yang harus di buat guru untuk melakukan pembelajaran, bukan untuk disuguhkan kepada pengawas.

Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, guru hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu sistem, yang jika salah satu komponennya terganggu, maka akan mengganggu seluruh sistem tersebut. Sebagai contoh, guru harus selalu membuat dan melihat persiapan setiap mau melakukan kegiatan pembelajaran, serta merevisi sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan perkembangan zaman.

Harus selalu diingat, mengajar tanpa persiapan merupakan jalan pintas, dan tindakan yang berbahaya, yang dapat merugikan perkembangan peserta didik, dan mengancam kenyamanan guru.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Guru



(disadur dari buku "Menjadi Guru Profesional")

Pemerintah sering melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas guru, antara lain melalui pelatihan, seminar, dan lokakarya, bahkan melalui pendidikan formal, dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun upaya tersebut paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki ijazah perguruan tinggi. Latar belakang pendidikan guru ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhinya. Namun tidak demikian dalam kenyataannya.

Dalam praktek pendidikan sehari-hari, masih banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam menunai¬kan tugas dan fungsinya. Kesalahan-kesalahan tersebut sering kali tidak disadari oleh para guru, bahkan masih banyak di antaranya yang menganggap hal biasa dan wajar. Padahal, sekecil apapun kesalahan yang dilakukan guru, khususnya dalam pembelajaran, akan berdampak negatif terhadap perkembangan peserta didik. Sebagai manusiaa biasa, tentu saja guru tidak akin terlepas dari kesalahan baik dalam berperilaku maupun dalam melaksanakan tugas pokoknya mengajar. Namun demikian, bukan berarti kesalahan guru harus dibiarkan dan tidak dicarikan cara pemecahannya.

Guru harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan dirinya berbuat salah, dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta menghindari dari kesalahan-kesalahan. Sehubungan dengan itu, disini secara khusus membahas kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran dan cara menghindarinya. Dengan demikian, diharapkan para guru tidak saja menyadari berbagai kondisi yang memungkinkan mereka berbuat salah, tetapi mampu menghindarkan diri dari hal-hal yang mendorongnya untuk melakukan kesalahan.

Dari berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa sedikitnya terdapat tujuh kesalahan yang sering dalakukan guru dalam pembelajaran. Kesalahan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,
2. Menunggu peserta didik berperilaku negatif,
3. Menggunakan destruktif discipline,
4. Mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,
5. Merasa diri paling pandai di kelasnya,
6. Tidak adil (diskriminatif),
7. Memaksa hak peserta didik.

Sabtu, 11 Desember 2010

Pelatihan ICT


PELATIHAN
PENGEMBANGAN PENGAJARAN BERBASIS ICT
DI SMA SUNAN GIRI MENGANTI


Latar Belakang
Kebutuhan akan multimedia Interaktif semakin dirasakan, mengingat kondisi perkembangan Teknologi Informasi (IT) semakin berkembang pesat. Dalam dunia pendidikan misalnya siswa mulai dari pra-sekolah, SD, SMP dan SMU/SMK dituntut untuk mengenal TI sejak dini. Kebutuhan ini tidak hanya sebagai wacana tetapi dilegalisasi melalui terbitnya Kurkulum 2004 yang memasukan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah, lebih khusus lagi SMK TI secara spesifik mempelajari TI sebagai suatu keahlian produktif. Untuk menunjang masuknya TI di sekolah, pemerintah secara bertahap membantu sekolah-sekolah dengan memberikan perangkat hardawre komputer sebagai alat peraktek dan ditunjang dengan diberikannya BOM (bantuan perasional Manajemen) yang salah satunya harus dibelanjakan untuk membeli software komputer untuk menunjang pembelajaran TI dan penguasaan materi pelajaran umum dengan bantuan TI. Dengan demikian jelas bahwa kebutuhan bahan pembelajaran berbasis ICT sebagai alat untuk membantu siswa menguasai TI dan materi pelajaran umum lainnya dengan lebih cepat, menyenangkan dan meningkatkan hasil belajar, menjadi kebutuhan yang mendesak untuk tercapainya kualitas pembelajaran yang diharapkan.
Atas dasar pentingnya bahan pembelajaran berbasis ICT yang dirancang oleh guru bagi peningkatan kualitas pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi dan untuk kepentingan publikasi komunikasi dan informasi lembaga, maka sudah menjadi kebutuhan yang mendesak untuk adanya peningkatan kemampuan para pelaku pendidikan/ pelatihan terutama guru untuk memiliki kemampuan dalam merancang multimedia interaktif untuk mengemas berbagai materi-materi pelajaran. Dengan demikian diperlukan adanya kegiatan Pelatihan Pembuatan Multimedia Interaktif berbasis Komputer .

Jenis Kegiatan Pengembangan
Terdapat beberapa jenis kegiatan pengembangan kompetensi guru SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK dalam penguasaan ICT untuk diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran, yakni:
1.     Pelatihan Pembuatan Desain Presentasi Multimedia yang meliputi desain pesan dan penguasaan tool multimedia projector.
2.     Pelatihan Pembuatan CD interaktif berbagai Mata Pelajaran
3.     Pelatihan Internet Dasar dan Pemanfaatan Internet sebagai Sumber Belajar Effektif.
4.     Pelatihan Pembuatan Web Blog (Company web dan Personal Web)

Tujuan Kegiatan Pengembangan
1.     Para Guru memiliki kompetensi dalam Pembuatan Desain Presentasi Multimedia yang meliputi desain pesan dan penguasaan tool multimedia projector.
2.     Para Guru memiliki kompetensi dalam Pembuatan CD interaktif berbagai Mata Pelajaran yang dikuasainya untuk digunakan dalam PBM.
3.     Para Guru memiliki kompetensi dalam penguasaan Internet Dasar dan Pemanfaatan Internet sebagai Sumber Belajar Effektif.
4.     Para Guru memiliki kompetensi dalam Pembuatan Web Blog (Company web dan Personal Web)

Materi Pelatihan
Pelatihan Pembuatan Desain Presentasi Multimedia yang meliputi desain pesan dan penguasaan tool multimedia projector.
1.     Power Point 2003/2007 Basic dan enrichment.
2.     Power Point to Flash (Mengubah file power point menjadi File format SWF)
3.     Articulate Presenter
4.     Teknik Penggunaan (use) dan pemeliharaan (maintenance) Multimedia Projector (all brand all type)
5.     Prinsip-prinsip desain presentasi sesuai dengan kaidah komunikasi visual Teknologi Pembelajaran.

Pelatihan Pembuatan CD interaktif berbagai Mata Pelajaran
1.     Konsep dasar Multimedia Interaktif (Computer Based instruction)
2.     Teknik pembuatan flowchart dan storyboard
3.     Desain Grafis untuk multimedia interaktif
4.     Programing dengan Macromedia Flash dan Macromedia Director
5.     Animasi dengan Swish Max dan 3D Cool

Pelatihan Internet Dasar dan Pemanfaatan Internet sebagai Sumber Belajar Effektif.
1.     Sejarah internet
2.     Trik Browsing untuk pencarian bahan pembelajaran yang efektif
3.     Mendaftar dan memelihara email
4.     Chatting, Milling List dan News grop
5.     Teknik Download text, ound, animasi dan Video

Pembuatan Web Blog (Company web dan Personal Web)
1.     Konsep, Fungsi dan Manfaat Web Blog
2.     Mendaftar dan mengelola Web Blog
3.     Trik Customis dan Desain Tamplate Web Blog
4.     Managemet web blog sebagai bahan pembelajaran yang efektif

Pelatihan Pembuatan Desain web untuk E-Learning dan Learning Management System (LMS)
1.     Konsep, Prinsip dan Prosedur e-learning
2.     Perancangan naskah untuk e-learning
3.     Desain web dengan Adobe Dreamwever atau Microsoft Front Page
4.     Data Base Management System dengan MySQL
5.     Pemanfaatan e-learning menggunakan Software Open Sources (Moodle, Zoomla, E-Tutor, etc.)
Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Cetak (Printed Material ) berbasis Komputer
1.     Konsep, Prinsip dan Prosedur pembuatan Bahan Ajar cetak Berbasis ICT
2.     Teknik pembuatan brosur, liflet, banner, poster, komik, dll.
3.     Pengolahan Objek Gambar dengan Adobe Photoshop CS
4.     Pembuatan bahan ajar berbasis vektor dengan Corel Draw untuk : mengatur layout, membuat logo.

Output
1.     Dihasilkannya produk media presentasi hasil rancangan guru yang membuat berbagai mata pelajaran yang dikuasainya mulai IPA, IPS, Matematika, Bahasa, Agama dan lain-lain.
2.     Dihasilkannya naskah-naskah CD Interaktif hasil buatan guru yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi produk CD Interaktif.
3.     Dihasilkannya produk CD Interaktif yang inovatif, kreatif, edukatif dan menyenangkan hasil rancangan guru yang membuat berbagai mata pelajaran yang dikuasainya mulai IPA, IPS, Matematika, Bahasa, Agama dan lain-lain.
4.     Dihasilkannya produk media dan sumber belajar yang diambil dari internet hasil pencarian guru yang membuat berbagai mata pelajaran yang dikuasainya mulai IPA, IPS, Matematika, Bahasa, Agama dan lain-lain. Bahan –bahan tersebut berupa : (1) Jurnal dan artikel pendidikan, (2) Hasil-hasil penelitian khususnya PTK, (3) Video pembelajaran, (4) Buku-buku yang bermanfaat dalam bentuk e-book, (5) Foto-foto sebagai bahan pembelajaran serta (6) Animasi bahan pembelajaran dalam bentuk SWF.
5.     Dihasilkannya Web Blog Guru untuk profil pribadi, sekolah mauoun bahan pembelajaran
6.     Dihasilkannya web e-learning hasil rancangan guru yang membuat berbagai mata pelajaran yang dikuasainya mulai IPA, IPS, Matematika, Bahasa, Agama dan lain-lain, untuk dimanfaatkan oleh siswa. 
7.  Dihasilkannya produk bahan ajar cetak hasil rancangan guru yang membuat berbagai mata pelajaran yang dikuasainya mulai IPA, IPS, Matematika, Bahasa, Agama dan lain-lain, berupa : buku, poster, banner, grafik, diagram, dll.