Halaman

Tampilkan postingan dengan label Memaksa Hak Peserta Didik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memaksa Hak Peserta Didik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2010

Memaksa Hak Peserta Didik


Suatu ketika seorang peserta didik sekolah menengah pertama (SMP) di sebuah kota besar tertangkap oleh polisi karena ketahuan suka menjual sabu-sabu, dan pil leksotan (narkoba) kepada teman-temannya. Kemudian peserta didik tersebut ditanya oleh polisi, "kenapa sampai berbisnis barang haram?" Dengan seenaknya id menjawab bahwa "berbisnis barang haram untuk memenuhi kepentingan sekolah, membeli buku dan alat-alat pelajaran yang seringkali dipaksakan oleh guru, dengan jumlah yang cukup besar." Anehnya ketika diperiksa air seninya ternyata
negatif, artinya peserta didik tersebut tidak termasuk pemakai barang haram yang dijualnya. Polisipun penasaran dan kemudian bertanya lagi: "mengapa tidak berbisnis barang lain?" Dengan seenaknya pula peserta didik menjawab, bahwa barang lain kan sudah banyak yang menjualbelikannya, ibu saya jualan ember, bapak saya jualan barang elektronik, tetangga saya jualan beras, guru saya di sekolah jualan buku, bagian saya tinggal barang ini Pak, katanya.

Ceritera ini berlanjut ketika ia telah berada di dalam tahanan, ditanya oleh teman satu sel yang intinya, "kenapa anak sekolah harus terjerumus berjualan narkoba." Dengan tenang pula peserta didik tersebut menjawab, "saya sedang praktek mata pelajaran kewirausahaan". Kata guru: "Belajar itu akan lebih bermakna dan tersimpan lama dalam ingatan, kalau apa-apa yang dipelajari segera dipraktekkan”.

Konon oknum peserta didik tersebut terbiasa ke luar masuk penjara, karena prustrasi dikeluarkan dari sekolah, menjadi pengangguran, dan dicemoohkan oleh masyarakat, akhirnya ia masuk ke dunia hitam dengan seluruh kehidupannya.

Akhir ceritera, ia harus menja-lani hukuman mati, dan ketika ditanya oleh hakim: "apa permintaan terakhirmu sebelum menjalani ekskusi?" Dengan tenang peserta didik tersebut menjawab: Saya rela menjalani semua ini, tetapi tolong guru saya diberi tahu agar jangan memaksa peserta didik untuk membeli buku, terutama bagi yang tidak mampu seperti saya, "saya begini awalnya karena guru yang mengajarinya, dan saya meniru serta mempraktekkan apa yang dia lakukan di sekolah."


Ceritera di atas menunjukkan betapa bahayanya seorang guru yang suka berbisnis, dengan memaksa peserta didik untuk membeli buku dan alat-alat pelajaran. Tidak ada salahnya guru mengambil keuntungan dari penjualan buku dan alat-alat pelajaran kepada peserta didik, tetapi hendaknya memahami situasi dan kondisi sosial ekonomi peserta didik, agar tidak terjadi akibat fatal bagi tumbuhkembangnya pribadi mereka. Biarkan mereka ceria dan berkembang sesuai dengan potensinya. Jangan ganggu, dan jangan paksa mereka untuk mengikuti irama tertentu. Bimbinglah mereka menjadi mereka sendiri. Lihatlah petani bunga, yang dengan sabar menyirami dan memberikan pupuk agar bunganya tumbuh dan berkembang secara optimal, mereka tidak pernah memaksa menarik-narik daun atau batangnya agar cepat besar.